NCDs, Mendunia Meski Tak Menular

NCDs, Mendunia Meski Tak Menular

Dalam beberapa tahun terakhir, sudah tak terhitung lagi kasus kanker terjadi di bumi pertiwi ini. Dan kanker menjadi penyakit yang menakutkan bagi sebagian besar orang Indonesia. Tak dapat dipungkiri memang, di Indonesia angka kematian karena kanker cukup tinggi. Bahkan secara khusus, kanker serviks menjadi penyebab kematian utama perempuan di Indonesia.

Penyakit yang perjalanan penyakitnya cukup panjang ini menjadi momok serius bukan hanya di Indonesia saja. Kanker, bersama penyakit tidak menular yang lain semacam diabetes, penyakit jantung, dan penyakit lainnya menjadi ancaman global yang lebih menakutkan dibandingkan penyakit yang menular. Penyakit-penyakit tidak menular ini, kemudian dikenal secara global dengan nama Non-communicable diseases (NCDs).

Apa itu Non-communicable diseases (NCDs)?

Menurut WHO, Non-communicable diseases (NCDs) adalah suatu kondisi medis atau penyakit yang tidak menular. Dan perlu teman-teman ketahui ternyata NCDs menyebabkan dua pertiga kematian di dunia pada tahun 2008. Dimana dari 57 juta jiwa sebanyak 36 juta meninggal karena penyakit ini. Sebuah angka yang cukup fantastis bukan?

Bahkan yang jauh lebih menyeramkan, menurut WHO sendiri, kematian NCDs diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, dimana peningkatan terbesar akan terjadi di negara-negara menengah dan miskin. Sebuah prediksi yang seharusnya membuat kita waswas, karena negara kita sendiri masih termasuk negara berkembang.

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 dan 2001 sendiri pun, tenyata selama 12 tahun (1995-2007) terjadi transisi epidemiologi. Disebutkan bahwa penyakit menular semakin menurun, sementara penyakit tidak menular  justru semakin meningkat.

Adapun proporsi penyebab kematian NCDs orang berusia kurang dari 70 tahun, penyakit kardiovaskuler menempati posisi pertama dengan angka 39% yang kemudian diikuti kanker dengan 27%. Kemudian di posisi ketiga terdapat diabetes yang menyebabkan 4% kematian. Adapun penyakit lain seperti pernafasan kronis, penyakit pencernaan dan NCDs yang lain bersama-sama menyebabkan sekitar 30% kematian.

Kok bisa sih angkanya naik? Bukannya NCDs tidak menular?

Ya memang NCDs tidak menular. Hingga akan sulit sekali atau bahkan bisa dikatakan mustahil NCDs menjadi wabah. Tetapi, patut kita ingat bersama, NCDs berhubungan dengan gaya hidup. Padahal kita tahu, perkembangan dunia yang makin modern ini, membuat gaya hidup kita ikut berubah. Dan sayangnya, keadaan dunia mendukung kepada perubahan yang kurang baik. Dari malas berolahraga, konsumsi junk food, hingga ketergantungan kita kepada mesin dan robot.

Jadi, sekalipun tidak menular, apabila seseorang tidak bisa mengatur gaya hidupnya secara baik, bisa meningkatkan kemungkinan dia untuk terkena penyakit ini.

Lantas apa usaha pemerintah buat menanggulanginya?

Menurut WHO, sebenarnya terdapat tiga pilar strategi dunia untuk mencegah dan mengendalikan NCDs. Yaitu dengan surveillance (melakukan pemetaan epidemic dari NCDs), prevention (mengurangi tingkat paparan faktor risiko) dan management (memperkuat pelayanan kesehatan untuk penderita NCD).

Nah, Pemerintah Indonesia sendiri sudah membuat beberapa kebijakan yang bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan NCD, yang meliputi :

  1. PP No 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan
  2. Permenkes No 28 Tahun 2013 tentang Pencantuman peringatan kesehatan dan informasi kesehatan pada kemasan produk tembakau
  3. Permenkes No 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman informasi kandungan gula, garam dan lemak serta pesan kesehatan untuk pangan olahan dan pangan siap saji guna menekan konsumen dari penyakit tidak menular

Selain kebijakan tersebut, pemerintah sebenarnya juga sudah melakukan pencegahan dan pengendalian NCDs dengan multisektor. Yang pertama adalah mengurangi factor risiko yang dimodifikasi melalui intervensi yang cost-effective. Pemerintah juga mengembangkan dan memperkuat kegiatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat untuk meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian factor risiko NCDs.

Ada juga program promosi kesehatan melalui pos pembinaan terpadu pada masyarakat yaitu menjelaskan perilaku hidup sehat (tidak merokok, makan makanan yang sehat, melakukan aktivitas yang sehat). Selain itu ada pengendalian terpadu pada faktor risiko NCDs (hipertensi, perokok, obesitas) melalui dokter keluarga dan puskesmas. Rehabilitasi pada kasus NCDs melalui home care, monitoring & controlling pun juga sudah dilakukan oleh pemerintah

Tapi kok angka kematian masih tinggi?

Terdapat beberapa tantangan dalam mencegah dan mengendalikan NCDs di Indonesia. Antara lain adanya kesenjangan layanan (upaya untuk mengontrol NCDs belum difokuskan dan masih terfragmentasi, terbatasnya akses di daerah pedesaan dan masyarakat miskin). Selain itu kesenjangan sistem kesehatan (alokasi anggaran kesehatan yang terbatas, tidak tepat waktu, tidak proposional dan tenaga kesehatan yang tidak memadai, terlatih dan tidak cukup diberdayakan). Serta terdapat kesenjangan kebijakan (sector program yang distorsi (tidak efisien) dan berlebihan; pemerintah daerah yang belum berorietasi pada skala prioritas (seperti MDGs) berdasarkan rencana anggaran).

Lantas sebagai mahasiswa kedokteran kita harus ngapain?

Kita sebagai agent of health, agent of change, dan agent of development, sudah selayaknya membantu program pemerintah dalam hal kesehatan. Setidaknya ada 2 peran yang bisa kita lakukan dalam upaya mencegah meningkatnya NCDs. Yang pertama adalah peran langsung. Peran langsung yang dimaksud adalah peran yang bisa kita berikan kepada masyarakat dengan cara sosialisasi. Kita dapat menyelenggarakan sosialisasi dan melakukan pencerdasan kepada masyarakat mengenai bahaya NCDs jika tidak segera ditangani. Selain itu bisa kita berikan contoh aktivitas yang dapat mencegah NCDs seperti makan makanan bergizi, berolahraga secara rutin, atau tidak merokok.

Peran kedua adalah peran tidak langsung. Peran ini dapat kita lakukan karena implikasi posisi  mahasiswa dalam piramida sosial, yakni middle class. Dari posisi tersebut mahasiswa memiliki fungsi kontrol sosial atas kebijakan-kebijakan pemerintah. Maka dalam hal ini kita dapat berperan sebagai penyalur aspirasi masyarakat dan juga pengingat pemerintah atas tanggung jawabnya untuk mensejahterakan masyarakat, sesuai dengan amanah konstitusi.

Memang tidak mudah menurunkan angka kejadian NCDs yang tinggi di era sekarang. Dibutuhkan usaha yang cepat, kepemimpinan yang kuat, serta penanggulangan yang kontinyu untuk melawan NCDs baik di tingkat global, regional dan nasional.

Sumber :

Center for Indonesia’s Stategic Development Initiatives. (2013). NCDs Beban Ganda Bagi Bangsa. Available at : http://cisdi.org/articles/view/ncds-beban-ganda-bagi-bangsa. [Accessed October 2016]

Kementrian Kesehatan RI. (2014). Program PTM. Available at : http://www.pptm.depkes.go.id/cms/frontend/?p=progptm [Accessed October 2016]

Kementrian Kesehatan RI. (2015). Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2015-2019. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI

World Health Organisation. (2014). Deaths from NCDs. Available at : http://www.who.int/gho/ncd/mortality_morbidity/ncd_total/en/index.html. [Accessed October 2016]

World Health Organization. (2008). 2008-2013 Action Plan for the Global Strategy for the Prevention and Control of Noncommunicable Diseases. Available at : http://whqlibdoc.who.int/publications/2009/9789241597418_eng.pdf. [Accessed October 2016

NCDs, Mendunia Meski Tak Menular

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *