Hari Anak Sedunia

HARI ANAK SEDUNIA

Apa yang Sebenarnya Mereka Butuhkan?

          Hari Anak sedunia atau Hari Anak Internasional adalah peringatan bagi dunia untuk menatap dan mengingat kembali bahwa anak – anak juga mempunyai banyak hal yang harus diperjuangkan demi mendukung tumbuh kembang mereka. Peringatan ini sangatlah penting karena sebuah pedoman yang bersifat universal untuk pertama kalinya bahwa “Ras manusia menanggung dan mendukung anak – anak dengan perlakuan yang terbaik dan tidak memandang perbedaan.” Visi dari ditetapkannya peringatan ini adalah mendorong kerja sama secara global dalam menyelesaikan permasalahan permasalahan yang dialami setiap anak – anak.

          Negara yang pertama dalam menetapkan hari libur nasional demi memperingati Hari Anak adalah Turki, yaitu pada tanggal 23 April 1929. Hari Anak ini pun akhirnya ditetapkan sebagai peringatan yang bersifat internasional oleh UN (United Nations) pada tahun 1954. 5 tahun kemudia, peringatan ini pun diasosiasikan dan diperjuangkan dalam UN’s Declaration of the Rights of the Child pada tanggal 23 November.

          Lebih dari setengah populasi anak – anak di dunia direnggut hak – haknya dari kehidupan mereka akibat konflik, kemiskinan, dan kekerasan yang berdasar perbedaan jenis kelamin dan ras. Penelitian yang diangkat pada saat peringatan Hari Anak Sedunia menggunakan indikator akan taraf kesehatan yang buruk, kurangnya pendidikan, dipekerjakan sebagai buruh, kejahatan, pernikahan dan kehamilan yang terlalu awal untuk menilai keadaan anak – anak di 175 negara di dunia. Penelitian yang berjudul “The Many Faces of Exclusion” ini menilai bahwa 10 negara terbawah dalam peringkat ini adalah Niger, Mali, the Central African Republic, Chad, South Sudan, Somalia, Nigeria, Guinea, Sierra Leone dan Democratic Republic of Congo.

          Indonesia sendiri memiliki populasi anak – anak berjumlah 85 juta (sepertiga dari populasi nasional dan terbesar keempat dari negara lainnya). Pertumbuhan ini, sayangnya, tidak didukung oleh dukungan yang cukup dan menyeluruh. 53 persen dari populasi ini tinggal di perkotaan. Tetapi, masih terdapat jumlah yang tinggi atas keadaan yang tak terhindarkan dari kemiskinan berat (14,5 persen) dan kemiskinan moderat (48,7 persen).

“Komitmen Indonesia untuk memberikan anak-anak kesempatan yang adil dalam hidup semakin kuat. Ketika dunia menyetujui Agenda 2030 setahun yang lalu, Indonesia sudah mengintegrasikan banyak target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang terkait dengan anak dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN),”  menurut kepala perwakilan UNICEF Gunilla Olsson. “Tetapi ada terlalu banyak anak yang masih belum terjangkau.”

          Lebih dari 50 persen dari total 80 juta anak di Indonesia hidup dengan biaya kurang dari dua dolar per hari. Meski data mengenai sanitasi mengungkapkan bahwa buang air besar sembarangan (BABS) umumnya sudah dieliminasi di kelompok masyarakat paling kaya di Indonesia, di kelompok masyarakat paling miskin, angkanya masih sangat tinggi. Lebih dari satu dari tiga rumah tangga miskin di wilayah terpencil masih mempraktikkan BABS (BPS, 2013). Perilaku itu meningkatkan risiko diare dan radang paru-paru (pneumonia), dua pembunuh utama anak di Indonesia; BABS juga memperparah stunting (hambatan pertumbuhan), yang merupakan kondisi dimana anak-anak lebih pendek untuk usia mereka.“Kemajuan menyeluruh di tingkat nasional sering kali menutupi disparitas yang besar antara provinsi dan region,”.“SDG memberikan peluang untuk meletakkan hak-hak anak di pusat agenda pembangunan. Semua SDG yang berjumlah 17 menyentuh kehidupan anak, dan 13 diantaranya sangat relevan bagi mereka. Karenanya di UNICEF kami mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan dimulai dari anak-anak,” kata Ibu Gunilla. “Investasi untuk mencapai semua anak, terutama yang paling rentan adalah investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh negara.”  Menurut Gunilla Olsson, kepala perwakilan UNICEF.

Bagaimana Cara Menjadikan Mereka Individu yang Hebat?

Menyediakan dan menjaga beberapa factor berikut:

  1. Keamanan – Rasa aman dari kejahatan dan juga menjaga kondisi yang mendukung tumbuh kembang sang anak.
  2. Stabilitas – Menjadikan lingkungan keluarga menjadi lingkungan yang kondusif dan stabil. Dan mengenalkan sang anak untuk memahami, mengenal, dan mematuhi komunitas disekitarnya dengan baik.
  3. Konsistensi – Menjaga nilai – nilai positif untuk selalu diajarkan, diingatkan, dan diterapkan oleh sang anak. Dan mengajarkan mana yang baik dan buruk.
  4. Dukungan – Mendukung dan memfasilitasi anak demi menumbuhkan rasa percaya diri, patuh, dan independen
  5. Rasa Cinta dan Kasih Sayang – Selalu menunjukkan dan memberi rasa cinta dan kasih sayang kepada sang anak, sehingga sang anak tidak merasa terkucilkan dan tidak mendapat perhatian orang tua.
  6. Pendidikan – Pendidikan yang baik merupakan dasar yang kuat untuk perkembangan anak dalam menghadapi kehidupan mandirinya. Selain pendidikan formal, orang tua juga harus memberikan pelajaran – pelajaran hidup yang tidak bisa didapatkan di bangku sekolah setiap saat.
  7. Contoh yang baik (Positive Role Model) – Orang tua merupakan sosok pertama yang dikenal sang anak setelah dilahirkan ke dunia, maka dari itu, orang pertama yang akan menjadi acuan sang anak adalah orang tuanya.
  8. Aturan – Aturan dan larangan, tanpa keduanya, seorang anak akan bertindak diluar batas yang dapat menimbulkan hilangnya rasa patuh kepada yang lebih tua, khususnya orang tua mereka.

Cara Menyempatkan waktu bersama anak

         Ini bukan persoalan mengenai berapa durasi yang harus dihabiskan atau jenis aktivitas yang bagus untuk dilakukan, tetapi hal ini lebih kepada partisipasi anak. Orang tua harus mampu untuk selalu terkoneksi dengan anaknya melalui komunikasi yang baik. Dengan komunikasi yang baik, orang tua akan lebih memahami apa yang dibutuhkan sang anak, dan juga sang anak akan punya perasaan ”Memiliki”. Maka dari itu, libatkanlah sang anak dalam setiap aktivitas yang baik untuk tumbuh kembang sang anak.

#StayTogetherForTheKids

Hari Anak Sedunia